Kamis, 14 Juni 2012

KISAH INSPIRASIONAL DAN MOTIVASIONAL

Pada perkuliahan Mata Kuliah Kesehatan Mental, kita diperlihatkan beberapa cuplikan film yang maknanya sangat inspiratif dan sangat memotivasi. Beberapa diantaranya menceritakan tentang pengaruh kata-kata negatif terhadap diri, berpikir positif, cara memotivasi diri, berjuang untuk menggapai cita-cita, membahagiakan orang-orang yang disayangi, pengorbanan dalam hidup, kasih sayang orang tua kepada anak, bagaimana cara menghargai waktu dan lain sebagainya.

Perasaan saya pribadi tentang cuplikan beberapa film tersebut adalah terharu sekaligus bangga, karena ternyata masih banyak orang-orang diluar sana yang jauh lebih tidak beruntung keadaannya, tetapi mereka semua mampu menjalani hidup ini dengan sangat baik dibandingkan orang-orang normal lainnya.

Semua cuplikan film yang ditayangkan sangat bagus, tetapi yang sangat menyentuh hati saya adalah kisah tentang kasih sayang orang tua kepada anak dan bagaimana kita menghargai waktu kita sebelum terlambat. Dalam cuplikan film tentang kasih sayang orang tua kepada anak menceritakan bahwa ada seorang anak laki-laki sedang membaca koran yang sedang duduk di halaman rumahnya dengan Ayahnya, Ayahnya bertanya kepada anaknya ketika Ia mendengar suara burung gereja dibalik rerumputan.

Ayah    : “Suara apa itu?”
Anak    : “Itu burung gereja…”

Beberapa detik kemudian, Sang Ayah bertanya kembali kepada anaknya.

Ayah    : “Suara apa itu….?”
Anak    : “Itu burung gereja..!” (dengan nada sedikit marah)

Lalu, beberapa detik kemudian Sang Ayah bertanya kembali kepada anaknya.

Ayah    : “Suara apa itu….??”
Anak    : “Itu burung gereja papa!!! Apa kamu tidak dengar!!” bla.. bla.. bla.. (dengan nada sangat
 marah)

Sang Ayah kemudian masuk kedalam rumahnya dan mengambil diary tentang kisahnya dengan Si Anak saat masih kecil. Sang Ayah menunjuk suatu kalimat dan meminta Si Anak membacakannya. Didalam diary tertulis bahwa pada saat si anak masih kecil, Si Anak bertanya kepada Ayahnya saat sedang di halaman rumah yang menanyakan burung gereja, sama persis dengan kisah yang sedang dialami pada saat itu, tertulis bahwa Si Anak menanyakan “Suara apa itu?” sebanyak 21 kali kepada Sang Ayah, tetapi Sang Ayah tetap menjawab dengan sabar sambil memeluk Si Anak dengan penuh kasih sayang.

Si Anak sangat tidak sabar saat Sang Ayah hanya menanyakan suara dari burung gereja. Padahal sewaktu Si Anak masih kecil, sebanyak 21 kali Si Anak bertanya suara burung gereja kepada Sang Ayah, tetapi Sang Ayah tetap menjawab dengan sabar sambil memeluk Si Anak dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Si Anak, baru 3 kali ditanya, sudah tidak sabar, marah dan membentak. Kisah ini menggambarkan bahwa kasih sayang anak hanya sepanjang galah dan kasih sayang orang tua sepanjang masa.

Kisah selanjutnya adalah tentang bagaimana kita menghargai waktu kita sebelum terlambat. Kisah dalam cuplikan cerita adalah ada 3 anak muda, 2 laki-laki dan 1 perempuan yang sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat dengan menggunakan mobil. Tetapi ditengah perjalanan terjadi kecelakaan, mobil yang ditumpangi ketiga anak muda tersebut ditabrak oleh truk. Dalam kecelakaan tersebut, hanya 1 orang yang selamat, sebut saja si A. Sebelum kecelakaan itu terjadi si A melakukan hal yang baik yaitu saat azan berkumandang si A langsung bergegas melaksanakan shalat, karena si A tahu bahwa waktu itu sangat berharga dan tidak akan bisa diputar kembali.

Sebelum kecelakaan, 2 anak muda selain si A tidak langsung melaksanakan shalat, tetapi malah fokus pada pekerjaan mereka sendiri yang sebenarnya tidak begitu penting seperti telfonan dengan teman, chattingan dengan teman dan kegiatan tidak begitu penting lainnya. Dan sampai akhirnya mereka mengadakan perjalanan, mereka belum melaksanakan shalat dan terjadilah kecelakaan. Pada ilustrasinya, 2 arwah anak muda tersebut menyaksikan perbuatan mereka sendiri semasa masih hidup dan mereka semua menangis dan sangat menyesali perbuatannya. Kisah ini menggambarkan bahwa waktu sangatlah berharga dan tidak dapat diputar kembali. Apa yang kita lakukan di dunia adalah pilihan kita. Apabila kita melakukan hal yang tidak baik dan berakhir tidak baik, itu adalah pilihan kita, begitupun sebaliknya.

Kedua kisah diatas adalah kisah yang paling menyentuh menurut saya pribadi.

Manfaat dan harapan yang dapat diambil dari semua cuplikan film tersebut sangat banyak, diantaranya adalah kita harus banyak bersyukur, lebih berpikir positif, mampu memotivasi diri, terus berusaha dan melakukan pengorbanan dalam hidup, selalu menyayangi orang tua dan tahu bagaimana cara menghargai waktu sebelum terlambat. Semoga kita bisa menjalani hidup kita dengan sebaik-baiknya, tidak banyak mengeluh, terus berusaha dan berdoa. Selalu berjuang untuk menggapai cita-cita dan membahagiakan orang-orang yang disayangi… :)


*Vinni Febrina


Minggu, 22 April 2012

PANDANGAN ALIRAN PSIKOANALISA DAN BEHAVIORISTIK TENTANG KEPRIBADIAN SEHAT


A. Aliran Psikoanalisis (Memahami dan Menjelaskan Pandangan Aliran Psikoanalisa tentang Kepribadian Sehat)

Teori kepribadian dengan pendekatan psikodinamika sangat dipengaruhi oleh Sigmund Freud (1856-1939) yaitu Bapak Psikoanalisa yang sangat terkenal. Aliran ini melihat dari sisi negatif individu, masa lalu, analisis mimpi (jalan istimewa menuju ketidaksadaran), dan juga alam bawah sadar, yang tersusun dari 3 sistem pokok yaitu Id, Ego, dan Superego.

a)   Id

              Id merupakan system kepribadian yang asli dan merupakan sumber energi utama bagi hidup manusia. Id merupakan rahim tempat ego dan superego berkembang. Freud menyebut id “kenyataan psikis yang sebenarnya”, karena id mempresentasikan dunia batin pengalaman subjektif dan tidak mengenal kenyataan objektif. Id terdiri dari dorongan-dorongan biologis dasar seperti kebutuhan makan, minum, seks, dan agresifitas.

              Dalam Id terdapat dua jenis energi yang saling bertentangan dan sangat mempengaruhi kehidupan individu, yaitu insting kehidupan dan insting mati. Dorongan-dorongan dalam Id selalu ingin dipuaskan, dan dalam pemuasannya Id selalu berupaya menghindari pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan (prinsip kesenangan atau Pleasure Principle).

b)   Ego

              Ego merupakan energi yang mendorong untuk mengikuti prinsip kenyataan. Ego menjalankan fungsi pengendalian agar upaya pemuasan dorongan Id itu realistis atau sesuai dengan kenyataan. Misalnya orang yang lapar harus mencari, menemukan, dan memakan makanan sampai tegangan karena merasa lapar dapat dihilangkan.

c)   Superego

              Sistem kepribadian ketiga dan yang terakhir dikembangkan adalah superego. Superego adalah gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanamkan oleh adapt istiadat, agama, orangtua, guru, dan orang lain kepada anak. Karena itu pada dasrnya superego adalah hati nurani seseorang yang menilai benar atau salahnya tindakan seseorang. Itu berarti superego mewakili nilai-nilai ideal dan selalu berorientasi pada kesempurnaan.

Aktivitas mental individu dalam beberapa tingkatan berdasarkan sejauh mana individu menyadari gejala-gejala psikis yang timbul menurut Freud yaitu sebagai berikut :

a)   Tingkat Sadar atau Kesadaran (Conscious level)

              Pada tingkat ini aktivitas mental dapat disadari setiap saat seperti berpikir, persepsi, dan lain-lain.

b)   Tingkat Prasadar (Preconscious level)

              Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis yang timbul bias disadari hanya apabila individu memperhatikannya, misalnya memori, pengetahuan-pengetahuan yang telah dipelajari, dan lain-lain.

c)   Tingkat Tidak Disadari (Unconscious level)

              Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis tidak disadari oleh individu. Gejala-gejala ini muncul misalnya dalam dorongan-dorongan immoral, pengalaman-pengalaman yang memalukan, harapan-harapan yang irasional, dorongan-dorongan seksual yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, dan lain-lain.

              Tingkat tidak disadari inilah yang merupakan objek studi psikoanalisa. Dikatakan Freud pada tahun 1942 : “Tujuan utama psikoanalisa sebenarnya tidak lebih dari mencapai dan dapat mengungkap kehidupan mental yang tidak disadari”. Teori Freud sendiri kemudian banyak mengalami perkembangan baik oleh dirinya sendiri maupun oleh para pengikutnya seperti : Alfred Adler, Karen Horney, Erick Fromm, dan lain-lain.

              Perubahan penting yang dilakukannya sendiri adalh konsep libido. Awlanya libido dianggap berasal dari dorongan seksual semata, tetapi akhirnya Freud berpendapat bahwa libido merupakn dorongan kehidupan yang jauh lebih luas daripada dorongan seksual semata. Karen Horney dan Erick Fromm menekankan pentingnya pengaruh lingkungan social terhadap perkembangan kepribadian individu.

              Jadi dapat disimpulkan bahwa menurut aliran psikoanalisa manusia bersifat terbatas, yaitu mengabaikan potensi-potensi yang dimiliki manusia. Manusia dilihat dari sisi sakit, yaitu bahwa kodrat manusia bersifat negatif (neurotics dan psikotis), dan juga kodrat manusia digambarkan pesimistis, yaitu manusia adalah korban dari tekanan-tekanan biologis dan juga konflik-konflik pada masa kanak-kanak.

Kepribadian Sehat Psikoanalisa

1)  Pada alam pikiran tidak sadar dan kreativitas sebagai kompensasi untuk masa anak-anak yang traumatis.

2)   Individu bersifat egois, tidak bermoral, dan tidak mau tahu kenyataan.

3)   Manusia sebagai homo-valens dengan berbagai dorongan dan keinginan.

4)   Motif-motif dan konflik tak sadar adalah sentral dalam tingkah laku sekarang.

5)   Manusia didorong oleh dorongan seksual agresif.

6)  Perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada konflik-konflik masa kanak-kanak yang direpresi.

B.  Aliran Behavioristik (Memahami dan Menjelaskan Pandangan Aliran Behavioristik tentang Kepribadian Sehat)

Teori kepribadian behaviristik bertolak dari dan menekankan pengaruh lingkungan atau keadaan situasional terhadap perilaku. Tokoh-tokohnya adalah Rotter, Dollard, Miller, dan Bandura. Para ahli tarsebut berpendapat bahwa perilaku merupakan hasil interaksi yang terus menerus antara variable-variabel pribadi dengan lingkungan. Dengan demikian individu dan situasi saling mempengaruhi.

Teori belajar yang dianut oleh Dollard dan Miller menekankan pada konsep kebiasaan. Kebiasaan adalah pertautan atau asosiasi antara suatu stimulus (isyarat) dan suatu respons. Asosiasi-asosiasi atau kebiasaan-kebiasaan yang dipelajari tidah hanya terbentik dari stimulus-stimulus eksternal dan respon-respon terbuka, tetapi juga antara stimulus-stimulus dan respon-respon internal.

Jadi pola perilaku dibentuk berdasarkan suatu proses kondisioning. Orang-orang disekitar individu membentuk perilakunya dengan ganjaran dan hukuman. Disini terjadi pembentukan pola perilaku dan penguatan melalui pengalaman langsung, tetapi perilaku juga dapat terbentuk melalui pengalaman tidak langsung yaitu melalui pengalamn terhadap perilaku orang lain disekitarnya (modeling).

Para teoritisi behavioristik beranggapan bahwa perilaku seseorang itu ditentukan oleh cirri khusus dari situasi yang dihadapi, misalnya situasinya di kelas atau di lapangan bola, penafsiran individu terhadap situasi tersebut (pantas atau tidak melakukan agresi), penguatan yang dialami pada tingkah lakunya dalam situasi serupa (dihukum atau dipuji).

Jadi dapat disimpulkan bahwa menurut aliran behavioristik manusia adalah suatu sistem kompleks yang bertingkah laku dengan cara yang sesuai dengan hukum. Ciri-cirinya tersusun dengan baik, teratur, banyak spontanitas, kegembiraan hidup dan juga kreativitas. Manusia dianggap terbiasa dalam memberikan respons positif terhadap stimulus dari luar sehingga manusia diangggap tidak memiliki sikap diri sendiri karena potensi yang dimiliki manusia diabaikan.

Kepribadian Sehat Behavioristik 

1.    Manusia adalah makhluk perespon, lingkungan mengontrol perilaku.
 
2.    Manusia tidak memiliki sikap diri sendiri.

3.    Mementingkan faktor lingkungan.

4.    Menekankan pada faktor bagian.

5.    Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.

6.    Sifatnya mekanis mementingkan masa lalu.

*Vinni Febrina*


Referensi :

Basuki, A.M. Heru. (2008). Psikologi umum. Jakarta: Gunadarama.

Hall, Calvin S & Lindzey, G. (1993). Teori-teori psikodonamik (klinis). Yogyakarta: Kanisius.

Hall, Calvin S & Lindzey, G. (1993). Teori-teori sifat dan behavioristik. Yogyakarta: Kanisius.

Suryabrata, S. (2003). Psikologi kepribadian. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.


Senin, 19 Maret 2012

KONSEP KESEHATAN MENTAL

1.   KONSEP SEHAT DAN DIMENSINYA

Apakah itu Konsep Sehat? Dan apakah kalian tahu dimensi-dimensinya…?

Kata “Sehat” tentu tidak asing lagi ditelinga kita. Tetapi, apakah kalian tahu apa itu sehat? Dan apakah kalian tahu dimensi-dimensi sehat? Mungkin untuk permulaan, pengertian sehat yang  sering kebanyakan masyarakat katakan, memberi pengertian sehat itu adalah keadaan dimana seseorang dalam keadaan bahagia atau bisa dibilang tidak stress. Ada pula masyarakat yang mengatakan bahwa sehat itu adalah keadaan dimana seseorang dalam keadaan jasmani dan rohani yang baik. Pendapat masyarakat tentang apa itu sehat memang sangat beragam, dan kurang lebihnya masyarakat sudah banyak yang mengetahui definisi dari sehat itu apa. 


Definisi sehat menurut World Health Organization (WHO) yaitu “Keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani) dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan” (Smet, 1994). Dalam kaitan dengan definisi sehat menurut WHO tersebut, secara holistik maka dalam perkembangan kepribadian seseorang mempunyai 4 dimensi, yaitu :

*Agama

Agama merupakan fitrah manusia yang menjadi kebutuhan dasar manusia (basic spiritual needs). Mengandung nilai-nilai moral, etika dan hukum. Dengan kata lain, seseorang yang taat pada hukum, berarti ia bermoral dan beretika, seseorang yang bermoral dan beretika berarti ia beragama (no religion without moral, no moral without law).

*Arganobiologik

Arganobiologik memiliki arti fisik (tubuh atau jasmani) termasuk susunan syaraf pusat (otak), yang perkembangannya memerlukan makanan yang bergizi, bebas dari penyakit. Kejadiannya terjadi sejak dari pembuahan, bayi dalam kandungan, kemudian lahir sebagai bayi, dan seterusnya melalui tahapan anak (balita), remaja, dewasa dan usia lanjut .

*Psiko-Edukatif

Psiko-Edukatif yaitu berupa pendidikan yang diberikan oleh orang tua (ayah dan ibu) termasuk pendidikan agama. Orang tua merupakan tokoh imitasi dan identifikasi anak terhadap orang tuanya. Perkembangan kepribadian anak melalui dimensi psiko-edukatif ini berhenti hingga usia 18 tahun.

*Sosial Budaya

Dimensi sosial budaya dapat dijabarkan sebagai lingkungan sosial orang yang bersangkutan dibesarkan. Dengan kata lain, kesehatan akan terus berpengaruh sesuai lingkungan yang ditempati.

Selain definisi sehat dari WHO, Freund (1991) mengutip The International Dictionary of Medicine and Biology dan memberikan definisi kesehatan sebagai “Suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya, yang dicirikan oleh fungsi yang normal dan tidak adanya penyakit”

Definisi sehat (health) dari kamus lain juga mirip dengan yang dikemukakan oleh Freund yaitu sebagai berikut ini :

1.   Condition of a person’s body or mind.
2.   State of being well and free from illness (Hornby, 1989).

Definisi kesehatan lain, dalam UU Kesehatan No.23 tahun 1992, kesehatan didefinisikan secara lebih kompleks sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan semua orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Menurut Travis dan Ryan (1988), sehat prima adalah kemampuan individu untuk memilih jalan hidupnya, mampu memproses, menggunakan energi secara efisien, terjadinya integrasi yang baik antar tubuh, akal dan perasaan serta dapat menerima dan mencintai apa yang dimilikinya. Dari definisi sehat prima diatas, dimensi sehat dapat dikelompokan menjadi :

*Dimensi Fisik

Kemampuan menyelesaikan tugas sehari-hari, pencapaian kebugaran, menjaga nutrisi, dan ketepatan proporsi tubuh dari timbunan lemak, bebas dari penggunaan obat-obatan, alkohol dan rokok.

*Dimensi Sosial

Kemampuan berinteraksi secara baik dengan sesama dan lingkungannya, dapat menjaga dan mengembangkan keakraban individu, dan dapat menghargai serta toleran terhadap setiap pendapat dan kepercayaan yang berbeda.

*Dimensi Emosional

Kemampuan untuk mengelola stress dan mengekspresikan emosinya agar dapat diterima orang lain (bertanggung jawab, menerima, dan menyampaikan perasaannya serta dapat menerima keterbatasan orang lain).

*Dimensi Intelektual

Kemampuan belajar dan menggunakan informasi secara efektif antar-personal, keluarga, dan pengembangan karier. Kesehatan intelektual meliputi usaha untuk secara terus-menerus tumbuh dan belajar untuk beradaptasi secara efektif dengan perubahan baru.

*Dimensi Spiritual

Percaya adanya beberapa kekuatan (seperti alam, ilmu pengetahuan, agama dan bentuk kekuatan lain) yang diperlukan manusia dalam mengisi kehidupannya. Setiap individu memiliki nilai, moral, dan etika yang dianutnya.

2.   SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL

Penjelasan mengenai sejarah Perkembangan Kesehatan Mental, apakah kalian tahu…?

Mengenai sejarah kesehatan mental, terutama di Amerika dan Eropa akan diuraikan dibawah ini :
 

SEJARAH KESEHATAN MENTAL


GANGGUAN MENTAL TIDAK DIANGGAP SEBAGAI SAKIT




Tahun 1600 dan sebelumnya


Pandangan masyarakat pada saat ini menganggap bahwa orang yang mengalami gangguan mental adalah karena mereka dimasuki oleh roh-roh yang ada disekitar. Oleh karena itu mereka jarang dianggap sakit.



Tahun 1962


Orang yang bergangguan mental saat ini sering dianggap terkena sihir atu guna-guna atau dirasuki setan.


GANGGUAN MENTAL DIANGGAP SEBAGAI SAKIT




Tahun 1724


Pendeta Cotton Mather (1663-1728) mematahkan tahayul yang hidup di masyarakat berkaitan dengan sakit jiwa dengan memajukan penjelasan secara fisik mengenai sakit jiwa.





Tahun 1812


Benjamin Rush (1745-1813) adalah salah satu pengacara mula-mula yang menangani masalah penanganan secara manusiawi untuk penyakit mental dan dengan publikasinya yang berjudul “Medical Inquiries and Observation Upon Diseases of The Mind” (Buku teks Psikiatri di Amerika pertama).



Tahun 1843


Terdapat ± 24 rumah sakit. Tetapi hanya ada 2.561 tempat tidur yang tersedia untuk menangani penyakit mental di Amerika Serikat.




Tahun 1908


Clifford Beers menulis buku yang berjudul “A Mind That Found Itself” (berisi laporan pengalamannya sebagai pasien sakit mental yang mengalami kekejaman lembaga keperawatan). Clifford Beers juga mendirikan ConnecticutThe National Committee for Mental Hygiene.



Tahun 1909


Sigmund Freud mengunjungi Amerika dan mengajar psikoanalisa di Universitas Clark di Worcester, Massachusetts.



Tahun 1910


Emil Kraeplin pertama kali menggambarkan penyakit alzheimer dan mengembangkan alat tes untuk mendeteksi gangguan epilepsi.




Tahun 1918


Asosiasi Psikoanalisa Amerika membuat aturan bahwa hanya orang yang telah lulus dari sekolah kedokteran dan menjalankan praktek psikiatri yang dapat menjadi calon untuk pelatihan psikoanalisa.






Tahun 1920-an


The National Committee for Mental Hygiene menghasilkan 1 set model Undang-undang.

Harry Stack Sullivan menunjukan pengaruh lingkungan terapeutik dengan mengawasi pasien schizophrenia di Sheppard-Pratt Hospital.

1920-1930 terjadi perubahan treatmen dalam menangani gangguan mental (terpengaruh teori Freud).



Tahun 1930-an


Psikiater mulai menginjeksikan insulin yang menyebabkan shock dan koma sementara (treatmen untuk penderita schizophrenia).



Tahun 1936


Agas Moniz mempublikasikan laporan mengenai lobotomi frontal manusia yang pertama yang menyebabkan 20.000 prosedur pembedahan digunakan terhadap pasien mental di Amerika.



Tahun 1940-an


Elektroterapi (mengaplikasikan listrik ke otak) pertama kali digunakan di rumah sakit Amerika untuk menangani penyakit mental.



Tahun 1947


Fountain House di New York City memulai rehabilitasi psikiatrik untuk orang yang mengalami penyakit mental.


Tahun 1950


Dibentuk National Association of Mental Health (NAMH).



Tahun 1952


Chlorpromazine (obat antipsikotik konvensional) diperkenalkan untuk pasien schizophrenia dan gangguan mental lainnya.



Tahun 1960-an


Haloperidol (obat antipsikotik konvensional) digunakan pertama kali untuk mengontrol simtom-simtom yang positif (nyata) pada penderita psikosis.


GANGGUAN MENTAL DIANGGAP SEBAGAI BUKAN SAKIT


Tahun 1962


Thomas Szasz membuat tulisan berjudul “The Myth of Mental Illness.”



Tahun 1962


Terdapat 422.000 orang yang tinggal di rumah sakit untuk perawatan psikiatris di Amerika Serikat.



Tahun 1970


Terjadi deintitusionalisasi massal akibat kurangnya program-program bagi pasien yang telah keluar rumah sakit untuk rehabilitasi dan reintegrasi kembali ke masyarakat.



Tahun 1979


National Association of Mental Health (NAMH) National Mental Health Association (NMHA).


Tahun 1980


Munculnya perawatan yang terencana yaitu dengan opname di rumah sakit.


MELAWAN DISKRIMINASI TERHADAP GANGGUAN MENTAL



Tahun 1990


National Mental Health Association (NMHA) memainkan peran penting dalam memunculkan Disabilities Act.



Tahun 1994


Obat antipsikotik atipikal pertama kali diperkenalkan setelah hampir 20 tahun menggunakan obat-obatan konvensional.



Tahun 1997


Peneliti menemukan kaitan genetik pada gangguan bipolar yang menunjukan bahwa gangguan mental diturunkan.

 
*Kesimpulan dari sejarah perkembangan kesehatan mental, yaitu :

1.   Akibat kekuatan supranatural.
2.   Dirasuk oleh roh atau setan.
3.   Dianggap kriminal karena memiliki cara berpikir irrasional.
4.   Dianggap sakit.
5.   Merupakan reaksi terhadap tekanan atau stress, merupakan perilaku maladaptif.
6.   Melarikan diri dari tanggung jawab.



*Vinni Febrina*



DAFTAR PUSTAKA :

Maulana, D.J. Heri. (2007). Promosi kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Niagara, Rudi.(2011). Bimbingan konseling. http://rudiniagara.student.umm.ac.id/2011/03/26/ bimbingan-konseling/.

Siswanto.(2007). Kesehatan mental. Yogyakarta: Andi.