Kamis, 10 Oktober 2013

Arsitektur Komputer dan Struktur Kognitif Manusia

A.    Pengertian Arsitektur Komputer
Diawali dengan pengertian dari komputer. Komputer merupakan suatu alat elektronik yang mampu melakukan beberapa tugas sebagai berikut: menerina input, memproses input sesuai dengan programnya, menyimpan perintah-perintah dan hasil dari pengolahan serta menyediakan output dalam bentuk informasi (Blissmer, 1985).

Apa pengertian Arsitektur Komputer? 
Arsitektur komputer merupakan konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu sistem komputer, atau juga juga dapat didefinisikan dan dikategorikan sebagai ilmu dan sekaligus seni mengenai cara interkoneksi komponen-komponen perangkat keras untuk dapat menciptakan sebuah komputer yang memenuhi kebutuhan fungsional, kinerja dan target biayanya. (Wikipedia, 2013).
Arsitektur komputer mempelajari atribut-atribut sistem komputer yang terkait dengan seorang programmer dan memiliki dampak langsung pada eksekusi logis sebuah program, contoh: set instruksi, jumlah bit yang digunakan untuk merepresentasikan bermacam-macam jenis data (misal bilangan, karakter), aritmetika yang digunakan, teknik pengalamatan dan mekanisme I/O (Erwin, Feradila, Alhaq, dkk., 2010).

(Bagan Arsitektur Komputer)

Keterangan:
a) Data Input yaitu berupa data masukan. Input device berfungsi sebagai media komputer untuk menerima masukan dari luar. Beberapa contoh input device yaitu: keyboard, mouse, touch screen, scanner, camera, modem, network card, dll.
b) Central Procesing Unit (CPU) yaitu otak atau sumber dari komputer yang mengatur dan memproses seluruh kerja komputer. Berfungsi untuk menjalankan program-program yang disimpan di memori utama.
-   Control Unit bertugas mengatur jalannya program dan mengendalikan semua peralatan yang ada di sistem komputer, komponen ini sudah pasti terdapat dalam semua CPU.
-   Aritmatic Logical Unit bertugas untuk melakukan operasi aritmetika dan operasi logika berdasar instruksi yang ditentukan, ALU sering disebut mesin bahasa.
*(http://hasanudin.staff.gunadarma.ac.id)
c)   Primary Storage (memori utama) dipergunakan untuk menyimpan data dan instruksi dari program yang sedang dijalankan. Biasa juga disebut sebagai RAM.
d) Secondary Storage (memori sekunder) dipergunakan untuk menyimpan data atau program biner secara permanen. Contoh: floppy, harddisk, CD ROM, magnetic tape, optical disk, dll.
e)   Data Output yaitu hasil dari pemrosesan data. Output device berfungsi sebagai media komputer untuk memberikan keluaran. Beberapa contoh output device yaitu: monitor, printer, speaker, plotter, modem, network card, dll.

B.     Struktur Kognisi Manusia
Sebelumnya, mari kita ketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kognisi. Kognisi adalah proses yang dilakukan untuk memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan dan berbahasa (Wikipedia, 2013).
Dalam perkuliahan semester kali ini, dijelaskan oleh Quroyzhin Kartika Rini S.Psi., M.Psi dalam mata kuliah Psikologi Kognitif, kognisi didefinisikan sebagai aktivitas mental yang menggambarkan pemerolehan, penyimpanan, transformasi dan menggunakan pengetahuan.

Bagaimana struktur kognisi manusia?
Struktur kognisi terdiri dari 2 kata, yaitu struktur dan kognisi. Menurut Piaget, struktur disebut juga scheme (schemata atau schemas). Struktur dan organisasi terdapat di lingkungan, tapi pikiran manusia lebih dari meniru struktur realita eksternal secara pasif. Interaksi pikiran manusia dengan dunia luar, mencocokkan dunia ke dalam “mental framework”-nya sendiri.
Jadi dapat disimpulkan bahwa struktur kognisi manusia adalah suatu unsur yang saling berhubungan antara satu sama yang lain yang saling berakomodir atau saling melengkapi antara fungsi-fungsi, skema. Seperti bagian otak yang mengakomodir unsur bagian -bagian tubuh manusia yang menjadikan suatu sistem yang kompleks.
*(http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2012/03/analisa-perbedaan-struktur-kognisi-manusia-dan-arsitektur-komputer-2/)

Bagaimana kaitan antara struktur kognisi manusia dengan arsitektur komputer?
Sudah disinggung dalam pembahasan sebelumnya, Struktur kognisi manusia adalah suatu unsur yang saling berhubungan antara satu sama yang lain yang saling berakomodir atau saling melengkapi antara fungsi-fungsi, skema. Seperti bagian otak yang mengakomodir unsur bagian-bagian tubuh manusia yang menjadikan suatu sistem yang kompleks.
Perbedaan antara struktur kognisi manusia dan arsitektur komputer adalah struktur kognitif manusia itu proses berpikir yang terjadi pada diri manusia, sehingga memiliki kontrol terhadap proses berpikirnya sendiri. Sedangkan arsitektur komputer yang menciptakan adalah manusia, manusia yang membuat program, manusia yang membuat pola dari sistem komputer itu, sehingga yang memiliki peran utama dari semuanya adalah manusia itu sendiri, dan jika disatukan, maka akan menimbulkan suatu hubungan timbal balik yang sangat menguntungkan bagi manusia.
*(http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2012/03/analisa-perbedaan-struktur-kognisi-manusia-dan-arsitektur-komputer-2/).

Kaitan antara struktur kognisi manusia dengan arsitektur komputer dapat diilustrasikan sebagai berikut:


Bagan arsitektur komputer diatas menunjukan adanya aktivitas input – proses – output. Data dimasukkan (Data Input), lalu diproses didalam Central Procesing Unit (CPU) dengan bantuan Control Unit dan Aritmatic Logical Unit (ALU). Untuk penyimpanan data, dapat disimpan dalam Primary Storage atau Secondary Storage, dan pada akhirnya akan keluar Data Output.


Bagan diatas mengilustrasikan Human Information Processing (HIP) yaitu bagaimana proses manusia dalam berpikir, dengan tahapan berikut:
Tahap 1 → Memasukkan informasi (Input)         
Tahap 2 → Pemrosesan informasi (Storage)
Tahap 3 → Pengeluaran informasi yang telah diolah (Output)

Proses pembentukan ingatan dalam pikiran manusia menurut Human Information Processing (HIP), sebagai berikut:

Bila ada input, maka informasi yang masuk akan diterima oleh Sensory Register secara singkat
Bila ada perhatian, maka informasi tersebut akan ditransfer ke Short Term Memory
Informasi yang cenderung diulang-ulang, akan diberi makna (elaborative, rehearsal atau maintenance)
Ditransfer dari Short Term Memory, untuk kemudian disimpan atau diteruskan ke Long Term Memory

*(Quroyzhin Kartika Rini S.Psi., M.Psi dalam mata kuliah Psikologi Kognitif)

Apa kelebihan dan kelemahan arsitektur komputer dibandingkan struktur kognisi manusia?

Kelebihan dan kekurangan struktur kognisi manusia yaitu sebagai berikut:

Kelebihan struktur kognisi manusia:
1.   Struktur kognisi lebih sistematis sehingga memiliki arah dan tujuan yang jelas.
2.   Banyak memberi motivasi agar terjadi proses belajar.
3.   Mengoptimalisasikan kerja otak secara maksimal.

Kekurangan struktur kognisi manusia:
1.   Membutuhkan waktu yang cukup lama.
2. Terkadang sulit mengaplikasikannya dikehidupan sehari-hari, karena tergantung individu masing-masing dalam mengoptimalkan cara berpikir mereka.

Kelebihan dan kekurangan arsitektur komputer yaitu sebagai berikut:

Kelebihan arsitektur komputer:
1.   Memiliki prosesor yang berjumlah lebih dari satu.
2.   Bisa digunakan oleh banyak pengguna (multi-user).
3.   Dapat membuka beberapa aplikasi dalam waktu bersamaan.
4.   Menggunakan teknologi time-sharing.
5.   Kecepatan kerja prosesornya hingga 1GOPS (Giga Operations Per Second).

Kekurangan arsitektur komputer:
1.   Karena ukurannya yang besar, maka diperlukan ruangan yang besar untuk menyimpannya.
2.   Harganya sangat mahal.
3.   Interface dengan pengguna masih menggunakan teks.
4.   Kerjanya sangat lama.
5.   Membutuhkan daya listrik yang sangat besar.
*(http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2012/03/analisa-perbedaan-struktur-kognisi-manusia-dan-arsitektur-komputer-2/).

KASUS
Dalam kehidupan sehari-hari pasti akan dihadapkan oleh aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan dan berbahasa, tentunya aktivitas-aktivitas tersebut menguji cara kerja kognisi kita. Sebagai contoh, aktivitas yang menguras daya berpikir kita adalah saat diadakannya ujian, misalnya UAS. Sebelum UAS dilaksanakan, tentunya banyak dari kita membaca materi yang akan diujikan, kita mencoba memahami kata demi kata materi yang dibaca dan menganalisis maksud dari bacaan tersebut sesuai kemampuan masing-masing.
Ketika ujian berlangsung, tentunya kita mencoba mengingat kembali materi yang sudah dipelajari, tetapi dalam hal ini kita memproses data tersebut dengan cara masing-masing, ada yang dapat mengingat dengan jangka waktu yang lama (Long Term Memory), adapun yang hanya mampu mengingat dengan jangka waktu yang pendek (Short Term Memory). Disini dapat terlihat hasilnya, ada yang mampu mengisi soal-soal ujian dengan baik dan benar, karena mereka mampu mengingat dengan baik materi yang sudah dipelajari, dan adapun yang kurang baik dalam mengisi soal-soal ujian tersebut, karena mereka memiliki kemampuan mengingat yang kurang baik.
Serupa dengan pengolahan data di komputer, dimulai dari memasukan (input) data, lalu diproses dalam Central Procesing Unit (CPU), kemudian pada akhirnya akan menghasilkan output berupa informasi yang baru.

ANALISA KASUS
Pada kasus diatas mengenai proses kognisi manusia dengan arsitektur computer dapat kita analisa, bahwa keduanya memiliki struktur yang sama, yaitu melalui pengolahan data mulai dari input – proses – output. Dalam kasus ujian, input yang dimaksud adalah proses membaca materi, selanjutnya melakukan proses seperti menganalisis atau memahami materi tersebut, dan akan menghasilkan output yaitu apakah kita mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya, apabila kita dapat mengingatnya dengan baik, tentunya kita dapat mengerjakan soal-soal dengan baik dan benar, berarti kita menyimpan informasi tersebut dengan baik dalam Long Term Memory. Sebaliknya, jika kita kurang mampu mengingat materi dengan baik, tentunya kita akan sulit mengerjakan soal-soal dengan baik dan benar, berarti kita hanya menyimpan informasi tersebut dalam Short Term Memory.
Dalam arsitektur komputer pengolahan datanya juga menunjukan adanya aktivitas input – proses – output. Data dimasukkan (Data Input), lalu diproses didalam Central Procesing Unit (CPU) dengan bantuan Control Unit dan Aritmatic Logical Unit (ALU). Untuk penyimpanan data, dapat disimpan dalam Primary Storage atau Secondary Storage, dan pada akhirnya akan keluar Data Output.

Referensi:
Anonim. (2013). Analisa perbedaan struktur kognisi manusia dan arsitektur komputer. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2012/03/analisa-perbedaan-struktur-kognisi-manusia-dan-arsitektur-komputer-2/. Diakses 7 Oktober 2013.

Anonim. (2010). Pengantar komputer dan perkembangannya. http://eprints.undip.ac.id/ 19511/1/Pokok_bahasan_1_Pengantar_Komputer_dan_Perkembangannya.pdf. Diakses 7 Oktober 2013.

Erwin, Feradila, F., Alhaq, F., dkk. (2010). Arsitektur komputer. Depok: Universitas Gunadarma.

Wikipedia. (2013). Arsitektur komputer. http://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_ komputer. Diakses 7 Oktober 2013.

Wikipedia. (2013). Kognisi. kognisi http://id.wikipedia.org/wiki/Kognisi. Diakses 7 Oktober 2013.

Materi Perkuliahan Psikologi Kognitif: Quroyzhin Kartika Rini S.Psi., M.Psi.

Sistem Informasi Psikologi

A. Pengertian Informasi
Kita awali dengan etimologi dari kata informasi itu sendiri, yang berasal dari bahasa Perancis kuno, yaitu informacion (1387) yang diambil dari bahasa Latin, yaitu informationem yang berarti “garis besar, konsep atau ide”. Informasi merupakan kata benda dari informare yang berarti aktivitas dalam “pengetahuan yang dikomunikasikan” (Wikipedia, 2013).
Informasi adalah data yang telah diklasifikasikan atau diolah atau diinterpretasikan untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan (Sutabri, 2005).
Proses transformasi data menjadi suatu informasi dijelaskan oleh bagan sebagai berikut:


Berbicara mengenai sistem, sistem berasal dari bahasa Latin “systÄ“ma” dan bahasa Yunani “sustÄ“ma” adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi untuk mencapai suatu tujuan (Wikipedia, 2013).
Sistem adalah kumpulan yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu tujuan tertentu (Istiningsih, 2009). Terdapat pandangan serupa mengenai sistem, yaitu sekolompok unsur yang erat hubungannya satu dengan yang lain, yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu. Secara sederhana, suatu sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau himpunan dari unsur, komponen atau variabel yang terorganisir, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain dan terpadu (Magaline, 2008).

Lalu, bagaimana informasi dapat berinteraksi dengan sistem?

Dibawah ini adalah bagan mengenai bagaimana informasi dapat berinterkasi dengan sistem:

(Siklus Informasi)

Keterangan:
Pengolahan data → untuk menghasilkan informasi → penerima menerima informasi → membuat keputusan dan melakukan tindakan berarti → menghasilkan tindakan lain yang akan membuat sejumlah data kembali → data akan ditangkap sebagai input → diproses kembali lewat suatu model → kembali menghasilkan suatu informasi → terus menerus akan berulang hingga membentuk siklus informasi (information circle) atau disebut juga siklus pengolahan data.

B.     Pengertian Sistem Informasi Psikologi
Pembahasan kali ini tidak jauh dari pembahasan sebelumnya yaitu mengenai penggunaan sistem informasi dalam psikologi. Diawali dengan pengertian dari sistem, sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu (Istiningsih, 2009).
Informasi adalah sebagai hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian yang nyata yang digunakan untuk pengambilan keputusan. Informasi merupakan data yang telah diklasifikasikan atau diolah atau diinterpretasi untuk digunakan dalam proses pengabilan keputusan (Magaline, 2008).
Sistem informasi yaitu suatu sistem yang menyediakan informasi bagi semua tingkatan dalam suatu organisasi, dimana sistem ini menyimpan, mengambil, mengubah, mengolah dan mengkomunikasikan informasi yang diterima dengan menggunakan sistem informasi atau peralatan sistem lainnya (Magaline, 2008). Pengertian serupa juga dikemukakan oleh Hall (2001), bahwa sistem informasi merupakan sebuah rangkaian prosedur formal dimana data dikelompokkan, diproses menjadi informasi dan didistribusikan kepada pemakai.
Sistem informasi pada pembahasan kali ini dihubungkan dengan psikologi. Psikologi berasal dari kata psyche yang berarti “jiwa” dan logos artinya “ilmu pengetahuan”. Jadi, psikologi adalah ilmu jiwa. Branca (dalam Basuki, 2008) mengemukakan psikologi adalah pengetahuan tentang perilaku manusia. Woodworth dan Marquis (dalam Basuki, 2008) memberi gambaran bahwa psikologi mempelajari aktivitas-aktivitas individu, baik aktivitas motorik, kognitif maupun emosional.

Jadi, apa yang dimaksud dengan Sistem Informasi Psikologi?

Dapat diambil kesimpulan bahwa sistem informasi psikologi adalah suatu pemanfaatan media teknologi untuk membantu mempermudah mengolah data yang berkaitan dengan ilmu psikologi, dengan bantuan media teknologi komputer yang berkontribusi dengan sistem informasi, dimana hal ini akan sangat membantu dan mempermudah mulai dari penginputan data, pemrosesan data hingga mendapatkan hasil (output) dalam pengolahan data.

Lalu, bagaimana penggunaan Sistem Informasi dalam Psikologi?

KASUS
Pada masa globalisasi ini, teknologi yang disuguhkan semakin lama semakin modern, pekerjaan dapat dengan mudah diselesaikan salah satunya dengan perantara komputer. Dalam bidang psikologi, tentu kita familiar dengan penggunaan tes psikologi. Terdapat beberapa macam tes dalam bidang psikologi, seperti tes kepribadian, tes minat dan bakat, tes intelegensi dan tes psikologis lainnya. Sebagai contoh, dalam skoring tes intelegensi IST (Intelligenz Structure Test) menggunakan komputer dalam pengerjaannya. Kita memasukan data-data dari tes tersebut sesuai langkah-langkah yang telah ditentukan, kemudian komputer memproses data-data tersebut hingga pada akhirnya nanti akan keluar hasil dari pemrosesan data tersebut yaitu berupa grafik dan angka tingkat intelegensi individu.

ANALISA KASUS
Berdasarkan contoh diatas, penggunaan komputer digunakan untuk mempermudah pengolahan data, dan sehubungan dengan pengertian dari sistem informasi psikologi yang merupakan pemanfaatan media teknologi untuk membantu mempermudah mengolah data yang berkaitan dengan ilmu psikologi, dengan bantuan media teknologi komputer yang berkontribusi dengan sistem informasi, dimana hal ini akan sangat membantu dan mempermudah mulai dari penginputan data, pemrosesan data hingga mendapatkan hasil (output) dalam pengolahan data.
Mengenai skoring tes intelegensi IST (Intelligenz Structure Test) menggunakan komputer dalam pengerjaannya dengan transformasi data menjadi suatu informasi, sebagai berikut:

Input          → Memasukan data-data dari tes tersebut sesuai langkah-langkah yang  
     telah ditentukan (berisi data-data pengisian tes intelegensi tersebut).
Proses        → Komputer memproses data-data pengisian tes intelegensi tersebut.
Output       → Hasil dari pemrosesan data-data pengisian tes intelegensi, yaitu
     berupa grafik dan angka tingkat intelegensi individu.

Pada intinya, pada sebuah sistem selalu terdapat transformasi data menjadi suatu informasi, yaitu input – proses – output. Data-data dimasukan kedalam sistem pemrosesan data yang bekerjasama untuk mengolah data-data tersebut sehingga menghasilkan hasil (output) sebagai suatu informasi yang bermanfaat, dan kemudian digunakan sesuai dengan kebutuhan dalam bidang ilmu psikologi. Walaupun sudah berbasis komputer, bukan berarti akan lepas dari kesalahan atau error. Mesin juga dapat mencapai titik error, sama halnya dengan manusia yang tidak luput dari kesalahan.

Referensi:
Anonim. (2013). Siklus informasi. http://artidari.blogspot.com/2012/03/siklus-informasi.html. Diakses 7 Oktober 2013.

Basuki, A. M. H. (2008). Psikologi umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.

Furqon, C. Konsep informasi. Dikutip dari: http://file.upi.edu/Direktori/FPEB/PRODI._ MANAJEMEN_FPEB/197207152003121-CHAIRUL_FURQON/003._SIM-konsep_informasi.pdf. Diakses 7 Oktober 2013.

Istiningsih. (2009). Pengertian sistem dan analisis sistem. Depok: Universitas Gunadarma.

Magaline, Ferdinand. (2008). Konsep dasar. http://apr1l-si.comuf.com/SI.pdf. Diakses 7 Oktober 2013.

Sutabri, Tata. (2005). Sistem informasi manajemen. Yogyakarta: Andi.

Wikipedia. (2013). Informasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Informasi. Diakses 7 Oktober 2013.

Wikipedia. (2013). Sistem. http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem. Diakses 7 Oktober 2013.

Jumat, 15 Maret 2013

Psikoterapi


Pertanyaan

1.    Jelaskan pengertian Psikoterapi
2.    Sebutkan dan jelaskan tujuan Psikoterapi!
3.    Sebutkan dan jelaskan unsur Psikoterapi!
4.    Sebutkan perbedaan Psikoterapi dengan Konseling!
5.    Jelaskan mengenai pendekatan Psikoterapi terhadap Mental Illness!
6.    Sebutkan dan jelaskan bentuk utama Terapi!

Jawaban

1.    Pengertian Psikoterapi 

a)  Menurut Corsini (1989) psikoterapi adalah proses formal dari interaksi antara dua pihak, setiap pihak biasanya terdiri dari satu orang, tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih pada setiap pihak, dengan tujuan memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari kedua pihak karena ketidakmampuan atau malfungsi pada salah satu dari bidang-bidang berikut:
-  Fungsi kognitif (kelainan pada fungsi berfikir)
-  Fungsi afektif (penderitaan atau kehidupan emosi yang tidak menyenangkan)
- Fungsi perilaku (ketidaktepatan perilaku); dengan terapis yang memiliki teori tentang asal-usul kepribadian, perkembangan, mempertahankan dan mengubah bersama-sama dengan beberapa metode perawatan yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui resmi untuk bertindak sebagai terapis.

b)  Menurut Wolberg (1977), “Psychotherapy is a treatment by psychological means, of problems of an emotional nature in which a trained person deliberately established a professional relationship with the patient with the object of (1) removing, modifying or retarding existing symtomps, (2) mediating disturbed patterns of behavior, and (3) promoting positive personality growth and development”. Psikoterapi adalah perawatan dengan menggunakan alat-alat psikologis terhadap permasalahan yang berasal dari kehidupan emosional dimana seorang ahli menciptakan hubungan profesional dengan pasiennya yang bertujuan (1) menghilangkan, mengubah atau menemukan gejala yang ada (2) memperantai (perbaikan) pola tingkah laku yang rusak (3) meningkatkan pola pertumbuhan serta perkembangan kepribadian dan yang positif.

2.    Tujuan Psikoterapi menurut Corey (1991)

 a)  Tujuan Psikoterapi dengan Pendekatan Psikoanalisis
Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.

 b)  Tujuan Psikoterapi dengan Pendekatan Terpusat pada Pribadi
Memberikan suasana aman dan bebas agar klien dapat mengesplorasi diri dengan nyaman, sehingga ia bisa mengenali hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat. Untuk memungkinkannya berkembang kearah keterbukaan, memperkuat kepercayaan diri, kemauan melakukan sesuatu, dan meningkatkan spontanitas dan kesegaran dalam hidupnya.

 c)  Tujuan Psikoterapi dengan Pendekatan Eksistensialistik
Membantu seseorang mengetahui bahwa ia memiliki kebebasan dan menyadari akan kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki. untuk merangsang mereka mengenali bahwa mereka bertanggung jawab terhadap kejadian-kejadian yang mereka pikir terjadi pada mereka sebelumnya dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat kebebasan.

d)   Tujuan Psikoterapi dengan Pendekatan Behavioristik
Menghilangkan perilaku yang maladaptive dan lebih banyak mempelajari perilaku yang efektif. Memusatkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku dan mencari apa yang dapat dilakukan terhadap perilaku yang menjadi masalah. Klien berperan aktif dalam menyusun tujuan terapi dan menilai bagaimana tujuan-tujuan ini bisa tercapai.

e)    Tujuan Psikoterapi dengan Pendekatan Kognitif-Behavioristik dan Rasional-Emotif
Menghilangan cara memandang dalam kehidupan klien yang menyalahkan diri sendiri dan membantunya memperoleh pandangan dalam hidup secara lebih rasional dan toleran. Untuk membantu klien mempergunakan metode yang lebih ilmiah dalam memecahkan masalah emosi dan perilaku dalam kehidupan selanjutnya.

f)    Tujuan Psikoterapi dengan Metode dan Teknik Gestalt
Membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat dari pengalamannya. Untuk merangsangnya menerima tanggung jawab dari dorongan yang ada di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya terhadap dorongan-dorongan dari dunia luar.

g)   Tujuan Psikoterapi dengan Pendekatan Realitas
Membantu seseorang agar lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Merangsang untuk menilai apa yang sedang dilakukan dan memeriksa seberapa jauh tindakan-tindakannya berhasil.

3.    Unsur-unsur Psikoterapi
 a)   Klien, yaitu orang yang akan disembuhkan atau diobati.
 b)   Psikoterapis, yaitu orang yang melakukan psikoterapi.
 c)Proses Psikoterapi, yaitu pelaksanaan terapi dimana terjadinya interaksi antara Psikoterapis dengan Klien.

4.    Perbedaan Psikoterapi dengan Konseling

KONSELING
PSIKOTERAPI

Berfokus pada konseren, ikhwal, masalah, pengembangan-pendidikan-pencegahan.

Berfokus pada konseren atau masalah penyembuhan-penyesuaian-pengobatan.


Dijalankan atas dasar falsafah atau pandangan terhadap manusia.


Dijalankan atas dasar ilmu atau teori kepribadian psikopatologi.


Mengidentifikasi dan mengembangkan kekuatan-kekuatan positif pada individu.


Mengatasi kelemahan-kelemahan tertentu melalui beberapa cara praktis mencakup pembedahan psikis.



5.    Pendekatan Psikoterapi terhadap Mental Illness

 a)   Biological
Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.

 b)  Psychological
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuele pasca-traumatic, kededihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respons emosional penuh stress yang dilimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.

 c)  Sosiological
Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.

d)   Philosophic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.

6.    Bentuk utama Terapi menurut Wolberg 

a)    Supportive Therapy
Terapi yang bertujuan untuk memperkuat benteng pertahanan diri, memperluas mekanisme pengarahan dan pengendalian emosi kepribadian serta mengembalikan pada penyesuaian diri yang seimbang.

b)   Reeducative Therapy
Terapi yang bertujuan untuk mewujudkan penyesuaian kembali, perubahan atau modifikasi sasaran atau tujuan hidup dan menghidupkan potensi kreatif.

c)    Reconstructive Therapy
Terapi yang bertujuan untuk menimbulkan pemahaman terhadap konflik-konflik yang tidak disadari agar terjadi perubahan struktur karakter dan mengembangkan potensi penyesuaian yang baru.

Referensi:
Gunarsa, Singgih. D. (2004). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
IKAPI. (1997). Buku saku psikiatri. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Simanjuntak, Julianto. (2008). Konseling gangguan jiwa dan okultisme. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Marshonah. (2009). Proses terapi islam terhadap penderita gangguan kejiwaan. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
Mappiare, Andi. (1992). Pengantar konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Sholikhah, Hadiyatu. (2009). Terapi stress melalui psikoterapi islam menurut pemikiran dadang hawari. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.